Nazent Weblog

Informasi Seni Budaya Indonesia

The Gentleness of java, Peragaan Sanggul di Solo Square

Pusat perbelanjaan Solo Square, Jumat (18/12) malam itu tampak berbeda dari biasanya. Empat model mondar-mandir menjadi pusat perhatian pengunjung mal. Bukan karena model pakainnya atau sosok modelnya yang memukau pengunjung mal. Namun, empat model itu menjadi suguhan unik di Solo Square, karena memeragkan desain busana khas Jawa, yakni sanggul. Empat model itu nampak anggun dengan mengenakan empat jenis sanggul di antaranya sanggul Kadhal Menek, sanggul Bangun Tulak, Krukup serta sanggul Dodok Melok. Aksi itu sengaja dihadirkan di mal dalam acara bertajuk Solo, The Gentleness of Java. Ide aksi itu muncul atas keprihatinan nasib sanggul sebagai identitas budaya Jawa yang semakin dilupakan. Sanggul seharusnya dipakai bukan untuk segala event budaya Jawa, namun saat ini sanggul hanya dipakai untuk acara tertentu, yakni untuk pentas tari klasik. Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Darmasti, mencontohkan, sanggul Kadhal Menek biasanya digunakan dalam Tari Bedhaya, sanggul Bangun Tulak untuk Tari Bedhaya Enggar-enggar. Sedangkan untuk sanggul Krukup biasa dipakai untuk pengantin Solo Putri yang mengenakan pakaian basahan. Serta sanggul Dodot Melok dipakai dalam tarian berpasangan. ”Kebanyakan orang sekarang ini pada malas mengenakan sanggul, karena mereka beranggapan menggunakan sanggul itu rumit. Padahal kalau kita itu mau belajar, kata-kata rumit tersebut tidak akan kita temui,” tutur Darmasti saat ditemui Joglosemar di sela-sela pentas fashion sanggul. Menurutnya, dari berbagai jenis sanggul tersebut, tidak semuanya menggunakan rambut sambungan, Namun ada tetap menggunakan rambut sendiri.”Ada sanggul yang tidak memerlukan rambut pasangan. Misalnya seperti sanggul Bangun Tulak, sanggul Krukup serta Kadhal Menek ini tidak menggunakan rambut sambungan,” paparnya. Aksi peragaaan sanggul itu juga untuk memberikan pemahaman, bahwa memakai sanggul tidaklah serumit yang dibayangkan. Bahkan, dia menyatakan untuk memakai sanggul setelah terbiasa latihan, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja. Hal itu, kata dia, sering dipraktikkan kepada mahasiswi ISI. Setelah dipraktikkan oleh mahasiswinya, diharapkan, pembelajaran ke masyarakat akan lebih mudah dan cepat. salah seorang mahasiswi jurusan tari ISI, Nining Wulandari, menambahkan, mengenakan sanggul tidak lagi sulit. Jika ini dipraktikkan semua kaum hawa, masyarakat Jawa, budaya mengenakan sanggul tidak akan punah.”Ini akan bermanfaat banyak, khususnya untuk pelestarian budaya Jawa,” ujarnya.

(Dwi Hastuti) Harian Joglosemar

April 6, 2010 - Posted by | Budaya, Seni |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: