Nazent Weblog

Informasi Seni Budaya Indonesia

Menonton Kirab Budaya Kedhaton

Peserta dari ISI Surakarta

Menonton Kirab Boyong Kedhaton

Prosesi kirab budaya Boyong Kedaton yang menggambarkan perpindahan Keraton Kartasura ke Kota Solo memang menjadi tradisi peringatan Ulang Tahun Kota Solo. Dalam HUT Ke-265 Kota Solo kali ini, kirab juga masih melibatkan berbagai elemen masyarakat dan jajaran Pemerintah Kota Surakarta.

itu juga mengundang perhatian tamu dari Kerajaan Terengganu, Malaysia. Rombongan terdiri atas tujuh orang termasuk Wali Kota Kuala Terengganu, Dato H Adzian bin Mohd Dagang, dan Dato H Mohamde bin Awang Tera, Exco Kerajaan Negeri Terengganu. Kehadiran mereka bahkan tak hanya menyaksikan tapi juga turut terlibat dalam kirab dengan naik kereta kuda.

Tak uruang keterlibatan mereka menarik perhatian masyarakat yang memadati sepanjang jalan yang dilewati kirab. Apalagi busana yang dikenakan yakni busana adat masyarakat melayu terasa asing bagi masyarakat di Kota Solo.
Tertib dan meriah. Demikian gambaran kirab Budaya Boyong Kedaton 2010 yang berlangsung di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo, kemarin.

Kondisi tertib tampak dengan tidak adanya lalu lalang kendaraan saat kirab berlangsung. Semua jenis kendaraan berhasil dialihkan rutenya ke sejumlah jalan alternatif atau jalan kampung. Sebagian lainnya, arus lalu lintas dihentikan sama sekali di beberapa titik persimpangan.
Kirab Boyong Kedaton diawali dengan iring-iringan ogoh-ogoh sepasang patung loro blonyo. Di belakang patung tersebut ada barisan penari yang mengenakan rias dan busana layaknya patung loro blonyo lengkap dengan gerakannya yang patah-patah. Sembilan penari kuda dengan gagahnya mengawal kereta kencana.

Berbeda dengan prosesi Boyong Kedaton tahun-tahun sebelumnya. Boyong Kedaton yang dijadikan tema kali ini memang hanya sebagai simbol kirab, tanpa menyertakan prosesi perpindahan kerajaan tersebut.

Kirab yang menandai perpindahan kerajaan itu, kali ini hanya ditandai dengan sepasang pohon beringin, dampar yang ditandu, payung kebesaran serta barisan puteri sesaji yang melambangkan boyongan itu.

Nuansa budaya tampak makin menonjol dengan tampilnya sejumlah sanggar seni maupun lembaga pendidikan seni yang ada di Solo. Seperti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri(SMKN) 8 dan 9 yang dulu menyatu dalam Sekolah Menengah Karawitan Indonesia(SMKI).
Demikian juga Institut Seni Indonesia(ISI) Solo, dan lain-lain. Pesta budaya yang setiap tahun digelar itu ternyata juga menarik perhatian daerah sekitarnya.

http://www.isi-ska.ac.id

Februari 23, 2010 - Posted by | Budaya, Seni | , ,

1 Komentar »

  1. alangkah baiknya bila ada artikel-artikel yg mengetengahkan bebatragai temuan2, hasil eksperimen, penelitian, atau karena bermain. hal itu akan lebih kuat membangun motivasi sehingga satu saat akan memuncullkan inovator dari kaom moda untuk menegakan citra bangsa dan lebih maju. kapan anak bangsa ini mampu menepok dada karena temuan2 yang unggul???????? kutunggu berita semacam itu demi kejayaan bangsa

    Komentar oleh soegengtm | Agustus 30, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: