Nazent Weblog

Informasi Seni Budaya Indonesia

Sebuah Cacatan:Melihat Seni Bertutur di Aceh

Melihat Seni Bertutur di Aceh

Apr 28,  Oleh. Dahari ***

Aceh pada dasawarsa tempo dulu di kenal sebagai gudangnya seni bertutur. Bahkan, beberapa syair perjuangan yang menghantarkan kedigjayaan daerah ini, juga lahir dari seni bertutur. Sebut saja, syair Hikayat Prang Sabie. Hikayat ini yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajah belanda tempo dulu. Sehingga Pemerintah Jajahan belanda mengakui, dari sekian banyak daerah jajahan di Indonesia, Aceh merupakan daerah yang paling sukar untuk di taklukkan. Karakteristik heroik masyarakat di daerah ini memang sangat kental. Bahkan, di sela-sela percapakapan warung kopi, ada sebutan, sering terdengar orang Aceh paling pantang bila haknya di ganggu. Begitulah kira-kira simpulan dari riset kecil tanpa metode penelitian yang saya lakukan. Hanya melalui wawancara yang saya lakukan, di sela-sela kesibukan meliput berita. Wawancara yang sama juga saya lakukan untuk mengetahui bagaimana generasi muda Aceh tahu akan Nazam. Miris, hasilnya generasi muda kita tidak tahu banyak tentang nazam. Bahkan sebagiannya menanyakan kembali pada saya, Nazam itu seperti apa? Lalu kembali pada seni bertutur masyarakat di bumi Serambi Mekkah ini. Sejauh ini, seni bertutur di daerah ini terbagi ke dalam beberapa kelas, yaitu seni bertutur PMTOH (yang kini tengah giat di kembangkan oleh Komunitas Tikar Pandan-Banda Aceh), seni bertutur Hikayat, Pantun dengan nada dan irama, dan yang terakhir Nazam. Lalu bagaimana generasi muda Aceh memahami budaya seni bertutur ini? Kita ketahui seni dan sastra merupakan hal yang sangat abstrak, sulit untuk di jabarkan melalui rangkaian kalimat pendek. Begitu pula dengan nasib seni yang satu ini. Dalam tulisan ini, saya fokuskan pada Nazam yang kini mulai hilang perlahan di arena “pertengkaran” budaya antara pengaruh media massa yang terus berkembang dengan nasib seni itu sendiri. Seniman masa lampau Aceh, saya lihat hampir sama dengan seniman atau sastrawan lainnya di Indonesia. Dalam pembutan karyanya, sastrawan Indonesia sangat dipengaruhi oleh keadaan bangsa saat itu baik dalam kondisi politik, sosial maupun kebudayaan. Sastrawan yang tergabung dalam angkatan Balai Pustaka hadir pada masa penjajahan Belanda. Karya-karya mereka harus tunduk dengan peraturan volkslectuur, yaitu sebuah lembaga kesusatraan di bawah pemerintahan kolonial belanda (Bali Post Online:2003). Tampak dari cara bertuturnya Nazam cendrung memuat hampir semua permasalahan yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Pesan-pesan yang di sampaikan melalui Nazam, menurut Zulfikar Syarif, salah seorang pegiat Nazam yang saya temui di Lhokseumawe mengatakan sangat efektif tempo dulu. Ada dua tempat menurut saya yang paling efektif sebagai sarana komunikasi di daerah ini, pertama, warung kopi, dan kedua, melalui seni bertutur seperti Nazam, Hikayat dan lain sebagainya. Warung kopi, mengingat warga aceh hampir saban pagi selalu bertemu di warung kopi untuk membicarakan pekerjaan dan lain sebagainya. Sedangkan Nazam atau dalam kalimat saya, seni bertutur, ini merupakan seni yang paling di gemari oleh masyarakat Aceh masa silam. Muncul sebuah pertanyaan, masihkan seni bertutur di Aceh memiliki eksistensi? Jika melihat eksistensi seni bertutur Aceh, dewasa ini, kembali kita harus merenung bagaimana generasi muda kita mengetahui seni bertutur di aceh, apapun jenisnya. Jika, manyoritas generasi muda telah tidak mengerti apa sebenarnya seni bertutur ini, maka dapat di simpulkan eksistensi seni jenis ini hanya di ketahui oleh kalangan tua, yang notabene kini berusia merangkak senja. Artinya, kita akan kehilangan generasi penerus untuk melanjutkan seni bertutur ini. Akhir-akhir ini entah karena terpaksa atau karena mengikuti tren semata, di Lhokseumawe hampir semua Radio baik swasta maupun pemerintah giat mengadakan program acara Nazam. Sebut saja seperti Radio Republik Indonesia (RRI) Programa satu, Radio Sapa FM, Radio Pasee FM dan Radio Adimadja FM. Dari sebelas radio di daerah ini, ternyata setengah di antaranya menyisihkan waktu untuk program Nazam. Tujuannya, menurut salah sorang penyiar Pasee FM yang saya temui adalah untuk membudayakan kembali seni bertutur Aceh yang mulai di tinggalkan ini. Hemat saya, media memiliki peran penting untuk mensosialisasikan budaya terhadap generasi penerus di Aceh. Bukankah Harol D Lasweel menyebutnya demikian dalam buku komunikasi massa miliknya. Untuk media cetak, hanya Tabloid mingguan Modus yang memiliki rubrik Nazam. Sangat di sayangkan, dari tiga harian dan enam mingguan dan satu majalah bulanan yang terbit di Aceh, hanya Modus yang menulis tentang Nazam. Media lainnya, alih-alih untuk menulis tentang nazam, bahkan kolom atau rubrik budaya saja tidak mereka miliki. Saya melihat Serambi Indonesia sebagai koran tertua dan terbanyak dari segi oplah, juga tidak memiliki rubrik budaya. Dahulu, harian ini, memiliki rubrik budaya, namun entah karena alasan apa, redaksi “menenggelamkan” rubrik tersebut. Mungkin alasan media tersebut adalah, nazam dan snei bertutur lainnya tidak nikmat di baca, namun hanya nikmat di dengar karena dia memiliki irama dengan nada tertentu. Lalu, saya hanya mengingatkan, media dari sisi melestarikan budaya, adalah corong paling efekif. Media pula yang menjadi transformator untuk memberi tahu secara tidak langsung pada generasi muda, bahwa seni bertutur Aceh seperti “A”, misalnya. Artinya, media di Aceh paling tidak dalam seminggu sekali harus menyisakan rubrik untuk memuat budaya di daerah ini. Toh, ini salah satu bentuk responsibility mass media. Cara lainnya untuk melestarikan seni ini adalah dengan membuaka komunitas. Semua penulis muda, sastrawan muda dan seniman muda butuh komunitas untuk menggali dan mengembangkan potensi diri yang di milikinya. Saat ini, IPNA sebagai komunitas pegiat Nazam belum mampu untuk melestarikan budaya ini pada generasi muda. IPNA tidak mungkin melakukan tugas pelestarian budaya ini, sendiri tanpa dukungan oleh siapapun. Saya melihat, pegiat Nazam yang tergabung di IPNA juga di dominasi kaum tua. Tidak ada pegiat Nazam dengan usia 20-an tahun di sana. Rata-rata usia mereka di atas 35 tahun ke atas. Ini merupakan fakta yang memilukan. Dimana, generasi muda Aceh kedepan akan lupa tentang Nazam. Artinya tidak ada proses kaderisasi di sini. Dan ini sangat bahaya terhadap kelestarian Nazam itu sendiri. Saya melihat IPNA sebagai lembaga senior pegiat Nazam harus membuka diri untuk merekrut generasi muda yang gemar akan Nazam. Caranya, bisa dengan melakukan roadshow, sayembara dan lain sebagainya. Sistem jemput bola harus di terapkan, untuk kelestarian budaya seni yang memiliki nilai estetis luar biasa ini. Disisi lain, saya melihat pemerintah baik itu propinsi dan daerah harus mendukung seluruh kegiatan yang berbau melestarikan budaya. Toh, budaya juga mampu mengangkat nama daerah. Selama ini, pemerintah seakan bertumpu pada kegiatan olah raga, khususnya Sepak Bola. Seakan-akan olah raga jenis ini merupakan satu-satu ajang untuk mempertahankan gengsi daerah. Meski begitu, tulisan ini bukan berarti rasa cemburu terhadap kegiatan olah raga. Saya juga histeris saat PSSB Bireuen dan Persiraja Banda Aceh mampu menaklukan lawan-lawan mereka di Liga Indonesia. Namun, saya hanya ingin mengingatkan, budaya juga mampu memberi apresiasi pada gengsi daerah. Lembaga adat yang selama ini di Aceh yang saya tahu hanya dua yaitu Majelis Adat Aceh (MAA) dan Dewan Kesenian Aceh (DKA) saya rasa dapat di lebur jadi satu. Seperti Nazam misalnya, yang saya lihat cendrung berkiblat pada DKA, sampai hari ini belum mendapat pembinaan dan pelestarian maksimal. Untuk menghemat anggaran dan memberi apresiasi terhadap kesenian Aceh seperti Nazam misalnya, bukan berarti harus mendirikan DKA. Saya rasa, DKA mungkin bisa satu badan dengan MAA, namun sifatnya otonom. Sehingga, tujuan kedua lembaga ini tafsiran saya adalah untuk melestarikan adat, budaya dan kesenian Aceh, akan tercapai lebih cepat, tepat dan akurat. Akhirnya, saya hanya berharap, Nazam dan seni bertutur lainnya di Aceh yang pernah mencapai masa kejayaannya di era Belanda, mampu bertahan dan terus lestari di Nanggroe Aceh Darussalam ini. Semoga.

Dikutip dari:http://komunikasiunimal.multiply.com/journal/item/3/Melihat_Seni_Bertutur_di_Aceh

Agustus 10, 2009 - Posted by | Seni

1 Komentar »

  1. Wah…blog yang bagus ni…content e ditambah donk…www.iq-10.blogspot.com

    Komentar oleh Kunt | Februari 22, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: