Nazent Weblog

Informasi Seni Budaya Indonesia

Lamut, seni bercerita tutur

G. Jamhar. A.

Oleh M Syaifullah

Kehidupan Kai Jamhar, panggilan Gusti Jamhar Akbar, memang sederhana. Pria berbadan kurus ini tinggal di permukiman padat. Untuk sampai ke rumahnya di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, orang harus jalan perlahan karena hanya bisa dilewati satu sepeda motor.

Di rumah kayu itu tak ada meja makan. Jamhar menerima tamu dengan duduk di lantai di ruang tamu. Maklum, kursi tamu plastik yang tersedia hanya dua. Di ruang itu terpasang foto Raden Rosmono, bapaknya, serta tiga piagam penghargaan yang diterima Jamhar. Kondisi yang kontras dengan peran besarnya dalam pelestarian kesenian tradisional Kalsel.

Dialah seniman yang sampai sekarang setia balamut (memainkan seni lamut). Jamhar menjadi pelamutan (orang yang menyampaikan cerita lamut) sejak umur 10 tahun. Ia menekuni kesenian ini selama 54 tahun. Kepandaian balamut dia dapatkan karena sejak kecil selalu diajak bapaknya bermain lamut.

“Karena selalu ikut Bapak, saya jadi hafal balamut,” tuturnya.

Di Banjarmasin, selain Jamhar, Gusti Nafiah yang tinggal di Kampung Melayu juga bermain teater tutur ini. Nafiah pernah ikut dengan Jamhar sebelum bermain sendiri.

Seni lamut bisa dikatakan bernasib malang karena kini di ambang punah. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian itu mandek. Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya.

Karena itulah, meski sudah tua, Jamhar terus memainkan lamut di Radio Republik Indonesia (RRI) Banjarmasin, setiap Jumat malam. Kegiatan ini ia jalani dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, Jamhar juga balamut di Radio Nirwana, Banjarmasin, selama enam tahun.

“Hanya satu-dua jam saya balamut. Warga harus tahu lamut masih ada. Kesenian ini sangat berharga bagi Kalsel,” kata Jamhar yang mendapat honor siaran Rp 350.000 per bulan.

Seni bertutur

Lamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau cianjuran. Bedanya, wayang atau cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.

Mereka yang baru melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah. Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain, seperti dundam, madihin, bakesah, dan bapantun.

“Padahal, kesenian ini sebenarnya berasal dari China,” katanya.

Dalam keluarga Jamhar, kesenian ini diwariskan secara turun-temurun. Dia adalah keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Ceritanya, di Amuntai, Raden Ngabe bertemu pedagang China pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay. Dari pedagang itulah ia pertama kali mendengar alunan syair China. Dalam pertemuan enam bulan kemudian, Raden Ngabe mendapatkan salinan syair China tersebut.

“Buku salinan cerita lamut yang dimiliki keluarga itu masih ada sampai sekarang,” kata Jamhar.

Sejak itulah Raden Ngabe mempelajari dan melantunkannya, tanpa iringan terbang. Lamut mulai berkembang setelah warga minta dimainkan setiap kali panen padi berhasil baik. Ketika kesenian hadrah masuk di daerah ini, Lamut mendapat iringan terbang.

Seni bertutur itu disebut lamut karasmin karena menjadi hiburan pada perkawinan, hari besar keagamaan, maupun acara nasional. Lamut juga digunakan dalam proses batatamba (penyembuhan penyakit). Orang yang punya hajat dan terkabul biasanya juga mengundang palamutan. Kata “lamut” konon berasal dari bahasa Arab, laamauta (tidak mati).

Pada batatamba, sebelum lamut dimainkan, disiapkan dulu perangkat piduduk (sesaji), kemenyan atau perapin (dupa), beras kuning, dan lainnya. Setelah itu dilakukan tepung tawar dengan mahundang-hundang (mengundang) roh halus, membacakan doa selamat, dan memandikan air yang telah didoakan kepada si sakit.

Bila pada wayang ada tokoh punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, pada lamut tokohnya adalah Paman Lamut serta tiga anaknya: Anglung, Angsina, dan Labai Buranta. Sedangkan ceritanya sudah berpakem seperti wayang purwa, tentang kerajaan yang dipimpin Prabu Awang Selenong.

Meski tokoh dan pakem cerita lamut tertentu, pengembangan cerita tetap dimungkinkan sesuai kemampuan si pelamutan dalam meramu. Ramuan cerita itu bisa disadur dari kisah Panji, Andi-andi, atau Tutur Candi, bahkan cerita 1.001 malam. Kisah juga bisa menjadi dramatis dengan lakon yang gagah berani atau romantis.

Masyarakat Banjar, ungkap Jamhar, paling mengharapkan kisah percintaan antara Junjung Masari dan Kasan Mandi. “Para penonton hanyut ketika mendengar kisah percintaan kedua tokoh itu dalam syair pantun bahasa Banjar.”

Jamhar mencontohkan sebait syair: ading ada pantun ding/ada pantun ding urang dahulu/mari ding pergi ka bukit ada anak kapitan bermain sumpit/mari ding kucium sadikit/badan kupaluk pinggang kugapit.

Lamut juga digemari warga China keturunan di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin.

“Mereka gemar mendengar cerita Bujang Maluwala karena ada kisah perkawinan dengan orang China,” kata Jamhar yang beristri keturunan China dan penggemar lamut juga.

Makin redup

Lamut semakin meredup seiring masuknya berbagai musik modern. “Lamut makin ditinggalkan orang setelah karaoke sampai ke desa-desa,” ucap Jamhar.

Masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya.

Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di KalimantanTengah.

“Pada masa itu saya hanya bisa istirahat pada malam Jumat,” ucapnya. Cerita lamut yang dibawakan Jamhar bisa dimainkan bersambung selama 27 malam. Cerita dia kembangkan berdasarkan perjalanan hidupnya.

Belakangan ia hanya balamut untuk satu malam, selama sekitar lima jam. Dalam balamut, ia sisipkan pesan moral, kritik, dan saran. “Kini yang mengundang lamut sudah jarang, sebulan paling banyak tiga,” tutur pelamutan yang pernah menerima honor Rp 1 juta setiap sekali main ini.

Jamhar mengibaratkan lamut sebagai anak tiri yang tersisihkan. Pada 1982 di Kalsel ada 112 pelamutan. Kala itu, Jamhar, yang berusia 40 tahun, termasuk pelamutan muda. Kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru.

“Di Banjarmasin hanya saya dan Gusti Nafsiah. Salah satu anak saya masih malu memainkannya,” ucapnya.

BIODATA

* Nama     : Gusti Jamhar Akbar
* Lahir    : Alalak, 7 November 1942
* Istri    : Nur Asia atau Chen Kwan Chen (55)
* Orangtua : Raden Rosmono dan Gusti Ardiani

* Anak     :
1. Nur Aina
2. Ruwaida
3. Mahrita
4. Pansurna
5. Aminin
6. Mursalin
* Cucu     : 12
* Buyut    : 2

* Pendidikan:
– Sekolah Rakyat, sampai kelas V

* Pekerjaan:
– Seniman lamut
* Prestasi:
– Penghargaan Terbaik II Lomba Seni Lamut yang diadakan Kepolisian
Daerah Kalsel, 1980
– Penghargaan seniman tradisional dari Lembaga Kajian Keislaman dan
Kemasyarakatan Banjarmasin, 2006

Dikutip dari:kompas.com

Juli 25, 2009 - Posted by | Seni, Tokoh |

2 Komentar »

  1. The good web..

    Komentar oleh Ashila | Agustus 10, 2009 | Balas

  2. Budayakan seni…mari sma sama kita lestarikan budaya atau seni tradisi

    Komentar oleh SEni | Agustus 10, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: